Senin, 02 Mei 2016

8 Bulan Berlalu, Jamaah Haji Korban Mina Ini Baru Dipulangkan

 JAKARTA -- Kepulangan Hj Culan Kasim (55 tahun), salah satu korban insiden Mina 2015 disambut haru dan bahagia oleh keluarganya. Betapa tidak, keluarga Hj Culan sudah menanti kedatangannya selama delapan bulan itu. Andi Frenki, anak Hj Culan, menyampaikan terima kasih kepada semua pihak terkait atas keberhasilan memulangkan ibundanya dalam kondisi selamat.

Menurut Andi, ibundanya dalam kondisi prima sebelum berangkat ke Tanah Suci pada 2015 lalu. Serangan stroke terjadi sekitar empat hari menjelang kepulangannya ke Tanah Air. "Pas di Mina itu ibu jatuh. Mungkin karena ribut-ribut, orang pada lari, ibu jatuh. Kena kepala mungkin ya, terhempas. Waktu maghrib kejadiannya," ucap Andi Frenki yang ditemui usai jumpa pers, Ahad (1/5).

Selama mendapat perawatan di Jeddah, Andi mengatakan, ibundanya mendapatkan perawatan yang baik dari pihak medis Arab Saudi. Namun, serangan stroke sudah melumpuhkan ototnya, sehingga Hj Culan tak bisa berbicara. 

Melalui sambungan Skype dan rekaman suara, anak-anak Hj Culan memotivasinya agar punya tekad sembuh. Demikian pula dengan anak-anak muridnya di Pariaman, Sumatra Barat. Hj Culan masih tercatat sebagai guru Sekolah Dasar di Pariaman. 

"Ibu, alhamdulillah, merespons. Cuma enggak bisa bicara saja. Waktu saya ke Jeddah pun, Desember 2015, Ibu tahu saya dan ayah, keluarga semua (hadir). Kita ngomong, Ibu mengerti. Malah Ibu menangis. Karena stroke, enggak bisa gerak," papar Andi. Keluarga Hj Culan berdomisili di Jalan Sudirman Nomor 139-C, Pariaman, Sumbar. 

Menteri Kesehatan Nila Moeloek menerima kedatangan jamaah haji asal Sumbar tersebut di ruang khusus VIP, bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Ahad (1/5).  Nila mengatakan, Hj Culan perlu upaya medis lanjutan agar bisa kembali ke rumahnya dari Jakarta. Namun, perawatan optimal terus diberikan selama di RS Fatmawati, minimal hingga yang bersangkutan bisa lepas dari alat bantu.

(Baca Juga: Jamaah Haji Korban Insiden Mina 2015 Kembali ke Tanah Air)


SourceDownload Free Music

Pemulangan Jamaah Korban Mina Capai Rp 2 Miliar

 JAKARTA -- Salah satu jamaah haji Indonesia korban insiden Mina akhirnya bisa kembali bertemu dengan sanak keluarganya di Indonesia. Culan Kasim (55 tahun) kini sudah berada di Indonesia setelah delapan bulan harus menjalani perawatan di Arab Saudi pascainsiden Mina dimana dia menjadi salah satu korbannya.  

Culan dibawa dengan menggunakan pesawat khusus Medevac (aeromedical evacuation) milik pemerintah Kerajaan Arab Saudi. Kondisi fisik Culan sangat tidak memungkinkan untuk dibawa dengan pesawat biasa. Sejak insiden tersebut, Culan hingga kini harus selalu menggunakan alat bantu pernafasan. Sebab, heat stroke telah melumpuhkan sebagian besar saraf motoriknya, termasuk otot pernafasan.

Pesawat Medevac berangkat dari bandara internasional King Abdul Aziz Jeddah, Sabtu (30/4) pukul 19.00 waktu Arab Saudi. Pesawat tiba di bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, pada pukul 12.35 WIB, Ahad (1/5).

Setelah mendarat di Bandara Halim,  Culan langsung dibawa ke RS Fatmawati, Jakarta, agar segera mendapatkan penanganan medis. Menurut Menteri Kesehatan Nila Moeloek yang ikut menjemput kedatangan korban inisiden Mina ini, pemulangan Culan adalah peristiwa istimewa. 

Nila mengatakan prosesnya hanya menyita waktu cukup cepat, yakni lima minggu. Biaya pemulangan Culan mencapai Rp 2 miliar, yang ditanggung pemerintah Arab Saudi. 

Adapun biaya perawatan selama di RS Fatmawati, ditanggung BPJS Kesehatan. Sebab, Culan terdaftar sebagai pemegang Kartu Indonesia Sehat. 

Terkait ibadah haji tahun ini dan mendatang, Menteri Nila mengingatkan semua para calon jamaah agar selalu memastikan kesiapan fisik. Sebab, kondisi di Tanah Suci sangat berbeda daripada Tanah Air.

Calon jamaah diharapkan memeriksa kesehatan sejak awal, minimal sembilan bulan sebelum hari keberangkatan ke Tanah Suci. Sehingga risiko penyakit bisa dideteksi sedini mungkin. Ini agar kejadian semisal Culan tak terulang.

Heat stroke merupakan salah satu ancaman kesehatan bagi jamaah haji hingga 10 tahun mendatang. Itu konsekuensi periode haji yang bersamaan dengan musim panas di Tanah Suci. Hingga kini, masih tersisa satu orang jamaah haji yang juga dirawat karena menderita heat stroke sejak musim haji tahun 2015. Jamaah tersebut adalah bagian dari ratusan jamaah haji asal Indonesia yang terserang penyakit yang sama. 

(Baca Juga: 8 Bulan Berlalu, Jamaah Haji Korban Mina Ini Baru Dipulangkan)


SourceDownload Free Music

Tujuh Bulan Dirawat di Jeddah, Jamaah Haji Indonesia Dipulangkan

JAKARTA -- Staf Teknis Haji I Ahmad Dumyathi Bashori mengatakan, pemulangan seorang haji Indonesia yang dirawat di RS Garda Nusantara di Jeddah, sejak tujuh bulan terakhir, Hj Culan Kasim binti Kasim (55 tahun), tergolong istimewa.

"Usaha pemulangan jamaah sakit yang memerlukan fasilitas kesehatan berulang kali diusahakan oleh Kantor Urusan Haji Indonesia," kata Dimyathi di Jakarta, Ahad (1/5).

Namun hal itu tidak dapat dilakukan mengingat tidak ada maskapai regular yang siap dengan alat bantu pernapasan (ventilator). "Hanya pesawat evakuasi khusus medis 'aeromedical evacuation/medevac' yang menyediakan hal demikian," katanya.

Meski kondisinya sudah stabil, kata dia, Hj Culan tidak bisa dipulangkan dengan pesawat biasa dengan biaya yang cenderung lebih hemat dibanding menggunakan Medevac. Dia mengatakan, pemulangan memakan sekitar lima pekan.

Peristiwa ini merupakan pertama kalinya dalam sejarah perhajian Indonesia. Sebab, biaya pemulangan jamaah sakit ditaksir menelan biaya di atas Rp 2 miliar.

Hj Culan harus dipulangkan menggunakan Medevac karena yang bersangkutan adalah pasien yang menderita heat stroke dengan kondisi menggunakan ventilator. Dia mengatakan, evakuasi dilakukan dari RS Garda Nusantara Jeddah.

Hj Culan diantar dengan ambulans kemudian diterbangkan dengan pesawat khusus dari Bandar Internasional King Abdul Aziz menuju Indonesia didampingi dua paramedis laki-laki dan satu perempuan. Pesawat medis itu berangkat dari Saudi pukul 22:00 WAS. Berdasarkan jadwal Medevac pembawa Hj Culan tiba pada Ahad siang.

Pemulangan itu melibatkan banyak pihak termasuk unsur pemerintah yang ada di Arab Saudi dan Indonesia. Selain itu, unsur Kerajaan Arab Saudi juga memudahkan pemulangan Hj Culan.


SourceDownload Free Music

BPIH Turun, Dirjen PHU Jamin Kualitas yang Baik

JAKARTA -- Pemerintah dan parlemen bersepakat menurunkan biaya penyelenggaraan ibadah haji (BPIH) 2016. Menurut Dirjen Penyelenggaraan Haji dan Umrah, Abdul Djamil, keputusan itu merupakan hasil dari serangkaian rapat sebelumnya antara Kementerian Agama dan panitia kerja (Panja) Komisi VIII DPR RI.

Dia menjelaskan beberapa komponen yang menjadikan BPIH turun, yakni aspek penginapan jamaah haji selama di Tanah Suci. Kemudian, tiket pesawat. Hal lain yang tak kalah penting, yakni pembayaran BPIH tak lagi menggunakan mata uang asing, melainkan Rupiah.

"Karena kita tentu harus taat pada ketentuan UU tentang Perlindungan Mata Uang dan Peraturan Bank Indonesia yang mengharuskan, seluruh transaksi dalam wilayah hukum Indonesia harus menggunakan Rupiah,'' kata Abdul Djamil kepada Republika di Jakarta, Ahad (1/5).

Jamaah haji yang biasanya dulu membayarnya dalam bentuk dolar, sekarang pakai Rupiah. ''Nah, Rupiah itu kalau didolarkan saat ini, nilainya itu 2.58 5 (dolar AS). Itu berarti turun, 132 (dolar AS) dibanding tahun lalu, (sebesar) 2.717 (dolar AS)," ujarnya.

Menurut dia, calon jamaah haji kian terbantu. Sebab, jika transaksi dalam dolar, maka setiap hari calon jamaah harus menunggu kurs yang dikeluarkan Bank Indonesia, yakni sekitar pukul 10.00-11.00. Setelah itu, baru kemudian calon jamaah bisa melunasi BPIH.

"Ini berarti ia akan memotong waktu berapa jam itu, tiga sampai empat jam. Sedangkan kalau ia pakai Rupiah, sejak jam 08.00 ia bisa melunasi."

Yang terpenting, kata Abdul Djamil, pemerintah menjamin kualitas penyelenggaraan ibadah haji tahun ini dan mendatang. Sebab, dia mengklaim, penyelenggaraan haji pada tahun lalu terbilang cukup sukses.

"Tahun lalu juga terjadi penurunan dibanding tahun sebelumnya. Tetapi tahun lalu kita bisa memberikan peningkatan pelayanan, misalnya di Makkah. Yang sebelumnya tak diberi makan, tahun lalu mulai diberi makan 15 kali.''

Apalagi, lanjut dia, sekarang pemerintah juga akan menambah lagi jatah katering bagi para jamaah Indonesia di Tanah Suci. Tidak lagi 15 kali, melainkan sampai 24 kali selama di Makkah. Kemudian, dari segi layanan bis.

"Bisnya nanti akan di-upgrade. Bis antarkota. Madinah-Makkah. Makkah-Madinah. Kemudian, dari Makkah ke Jeddah. Nanti akan naik bis (hasil) upgrade yang bagus," kata dia.

Selain itu, frekuensi menasik haji juga akan ditingkatkan di daerah-daerah luar Jawa, yakni menjadi 10 kali. Perinciannya, delapan kali di KUA dan dua kali di tingkat kabupaten. "Diharapkan akan semakin mematangkan persiapan ibadah mereka (calon jemaah haji) selama di Tanah Suci."

Lalu, lanjut dia, paspor bagi para calon jamaah haji juga akan ditanggung negara. Artinya, lanjut dia, biaya untuk pengurusan paspor akan diganti. "Dulu kan yang diganti hanya sekitar 70 persen sampai 80 persen. Sekarang, semua, 100 persen."

Kemudian, layanan bis shalawat yang ada di Makkah. Sekitar 91 persen j amaah akan dilayani bis. "Artinya, dari hotel-hotel tempat mereka menginap, sampai ke Masjidil Haram, itu mereka akan dilayani dengan bis-bis shalawat, supaya tak melelahkan mereka."


SourceDownload Free Music

Presiden Diharapkan Segera Buat Perpres BPIH 2016

JAKARTA -- Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) mengapresiasi atas penetapan Biaya Penyelenggaraan Ibadah Haji (BPIH) 2016 oleh DPR dan Kementrian Agama. Komisoner KPHI Syamsul Maarif berharap akan lebih transparan jika DPR dan pemerintah membuka biaya riil yang dibutuhkan jamaah untuk beribadah haji.

"Selama ini kan jamaah haji hanya membayar sebagian saja, karena sisanya ditanggung oleh dana optimalisasi yang berasal dari dana setoran awal yang dikelola," ujar dia kepada Republika.co.id, Ahad (1/5).

Jamaah haji perlu mengetahui jumlah pasti biaya haji setiap jamaah. KPHI memperkirakan tahun lalu biaya riil haji setiap jamaah sekitar Rp 60 juta setiap jamaah, jumlah tersebut telah dibantu dana optimalisasi sebesar Rp 24 juta.

Menurut dia, sebenarnya pemerintah tidak membantu meringankan jamaah, karena dana optimalisasi adalah dana setoran awal jamaah yang telah disimpan lama dan dikelola untuk sukuk dan lainnya. Setiap tahun Kemenag mendapatkan keuntungan dari pengelolaan dana optimaliasi sekitar Rp 3 triliun dengan jumlah dana optimalisasi lebih dari Rp 80 triliun.

Selain itu, setelah ditetapkan Syamsul berharap Presiden Joko Widodo segera menandatangani Peraturan Presiden tentang BPIH 2016. "Tahun lalu presiden Joko Widodo telat menandatangani Perpres dan kita tidak mengetahui alasannya, semoga tahun ini presiden tidak telat untuk menandatanganinya mengingat pemberangkatan haji perdana hanya tinggal tiga bulan lagi," jelas dia.

Perpres ini kaitannya dengan penetapan maktab yang harus segera dilakukan. Selain itu setiap embarkasi berbeda-beda jumlah BPIHnya, sehingga jamaah perlu segera mendapatkan kepastian angka untuk melunasi.


SourceDownload Free Music

Sabtu, 30 April 2016

Pemkab Banjar Cetak 569 Generasi Qurani

MARTAPURA -- Pemerintah Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, mencetak 569 generasi Qurani yang telah berhasil menamatkan (khatam) Alquran sejak usia dini setingkat sekolah dasar.

Bupati Banjar Khalillurahman di Kota Martapura, Jumat mengatakan, dihasilkannya generasi Qurani sesuai sejarah Banjar yang banyak mencetak ulama dan pemuka agama.

"Kami bangga dan berharap siswa yang menamatkan Alquran mampu menjadi generasi Qurani dan memiliki akhlak dan kepribadian yang terpuji sesuai ajaran Islam," ujar bupati.

Harapan itu disampaikan bupati terkait khataman Alquran yang telah berhasil dicapai 569 siswa Sekolah Dasar kelas VI se-Kecamatan Simpang Empat Kabupaten Banjar.

Ia mengatakan, Pemkab Banjar melalui program kerja dinas maupun instansi terkait memberi pendidikan agama Islam yang berkualitas berupa baca tulis kitab suci tersebut. "Keberhasilan dalam melaksanakan pendidikan Alquran, akan melahirkan generasi penerus berakhlak mulia, cerdas dan bisa membawa keberkahan serta kemajuan," ungkapnya.



Download NowSource


Lewat Shalat Subuh Berjamaah, Bupati dan Wabup Dengarkan Aspirasi Rakyat

 PURBALINGGA -- Bupati Purbalingga Tasdi dan Wakil Bupati Dyah Hayuning Pratiwi konsisten melaksanakan kegiatan Subuh berjamaah dengan mendatangi masjid-masjid di wilayahnya. Seperti yang dilakukan Jumat (29/4), pasangan kepala daerah didampingi sejumlah pejabat Pemkab, mendatangi masjid Al-Itihad di Desa Pepedan Kecamatan Karangmoncol.

"Kami akan terus melaksanakan kegiatan subuh berjamaah di masjid-masjid wilayah Purbalingga, karena banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari kegiatan ini,"jelas Tasdi.

Salah satu manfaat yang diperoleh, menurut Bupati, antara lain bisa menyamakan visi antara ulama dan umara. Dengan demikian, segala persoalan yang terjadi di masyarakat bisa lebih mudah dipecahkan bersama. ''Dengan adanya dukungan dari kalangan ulama, seluruh kegiatan pembangunan yang dilaksanakan Pemkab Purbalingga juga akan bisa berjalan dengan lancar,'' katanya.

Lewat gerakan Subuh berjamaah, dia menjelaskan, upaya memakmurkan masjid bisa lebih digalakkan. Dengan demikian, masjid menjadi pusat kegiatan dengan adanya diskusi antara masyarakat dan pejabat Pemkab.

"Pada saat (setelah) shalat Subuh, masyarakat bisa bertemu dengan para pejabat daerah, dan menyampaikan aspirasinya. Hal ini tentu akan memberi banyak masukan bagi kebijakan-kebijakan yang akan dilaksanakan Pemkab Purbalingga," katanya.

Untuk itu, dia meminta para pejabat Pemkab, Camat hingga Kepala Desa (kades), juga ikut menggelorakan kegiatan subuh berjamaah di masjid-masjid yang ada di wilayahnya. Dengan gerakan tersebut, kehidupan masyarakat juga menjadi lebih sehat karena terbiasa menghirup udara pagi yang segar. 

"Lebih dari itu, kebiasaan shalat Subuh juga akan membangkitkan budaya disiplin karena menjadi terbiasa bangun pagi,'' katanya.Bupati juga menambahkan, ada tiga tujuan gerakan Subuh berjmaah yang dia laksanakan. Salah satunya adalah untuk meningkatkan, ketaqwaan dan keimanan masyarakat, yang sebelumnya tidak rajin beribadah akan terjadi peningkatan. 

Tujuan berikutnya adalah untuk meningkatkan kebersamaan masyarakat dan meningkatkan hubungan antar manusia dengan manusia lainnya atau Habluminnas dan hubungan manusia dengan Tuhannya Habluminnalloh serta meningkatkan Ukhuwah Islamiyah dan Ukhuwah Basariyah juga mendekatkan ulama dan umarro. 

Tujuan yang terakhir adalah untuk membangun budaya/kultur baik dari gerakan subuh berjamaah. Karena biasanya, orang yang rajin beribadah/sholat, disiplin dalam segala hal, sehingga dengan kedisiplinan, akan menjadi pelopor displin dalam bekerja. ''Dengan bangun pagi, aktivitas kerja juga akan dilaksanakan lebih awal, sehingga kedisiplinan akan terbangun,'' tegasnya. 



Download NowSource